Muhammad bukan cuma sebuah nama yang melekat pada hati setiap Muslim. Ia adalah suri tauladan terbaik, contoh hidup dimana setiap perbuatan dan perkataannya adalah pedoman keselamatan dunia akhirat.

Di akhir hayat beliau, beliau tidak pernah mendahulukan keluarganya, sahabatnya atau orang-orang yang dekat dengannya. Yang ada dalam ingatan beliau adalah Ummati, Ummati, Ummati.

Pertanyaannya, seberapa sering kita mengingat beliau ??

Seberapa sering kita menyebut Muhammad dalam bentuk sholawat tiap hari kepadanya?, tidak usah di jawab, cukup di renungkan, adakah kita telah mengingatnya sebagaimana beliau mengingat kita di akhir hayatnya.

Mari kita lihat bagaimana akhir hayat beliau, Wafatnya Manusia paling Mulia, Muhammad Bin Abdullah.

Pertanyaan Pada Jibril

Setelah malaikat Izrail di persilahkan masuk ke dalam rumah Rasulullah oleh Fatimah, Beliau bertanya tujuan beliau, apakah untuk menziarahi atau untuk mencabut roh beliau. Lalu di jawab Malaikat Izrail bahwa kedatangannya adalah untuk menziarahi dan untuk mencabut roh beliau jika di izinkan.

Lalu RasulullahShallallahu Alaihi Wa Sallam bertanya ? Dimana Jibril, kemudian Jibril yang berada di langit dunia pun turun dan duduk di dekat kepala Rasulullah.

RasulullahShallallahu Alaihi Wa Sallam bertanya kepada Jibril ?

Wahai Jibril, beritahu kepadaku kemuliaan yang menggembirakanku di sisi Allah Subhanahu Wata’ala .”

Berkata Jibril : “Sesungguhnya semua pintu langit telah dibuka, para malaikat berbaris rapi menanti rohmu di langit. Semua pintu surga telah dibuka, dan semua para bidadari sudah berhias menanti kehadiran rohmu.” Berkata Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam : “Alhamdulillah.

Namun jawaban ini belum cukup bagi mengembirakan Rasulullah, pertanyaan berikutnya pun menjadi bukti kecintaan Rasulullah pada ummatnya.

Sekarang engkau katakan tentang umatku di hari kiamat nanti.”

Berkata Jibril :“Allah Subhanahu Wata’ala telah berfirman : “Sesungguhnya aku telah melarang semua para Nabi masuk ke dalam surga sebelum engkau masuk terlebih dahulu, dan aku juga melarang semua umat memasuki surga sebelum umatmu memasuki terlebih dahulu.”

Berkata Rasulullah SAW: “Sekarang aku telah lega dan telah hilang rasa susahku.

Baca juga : Lafadz “Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam” dan Penulisannya

Do’a ketika Merasakan Sakaratul Maut

Muhammad
Muhammad via Tribun Jogja

Tanda kecintaan Rasulullah berikutnya adalah ketika beliau mengalami sakratul maut. Manusia mulia itu memanggil Malaikat Izrail.

Wahai Izrail, dekatlah engkau padaku.”Setelah itu Malaikat Izrail pun mengawali tugasnya.

Ketika rohnya sampai pada ubun-ubun (pusat), RasulullahShallallahu Alaihi Wa Sallam pun berkata : “Wahai Jibril, alangkah dahsyatnya kematian itu.”

Dalam kisah lain Rasulullah berdo’a “Ya Allah, berat sekali sakaratul maut ini. Timpakan saja semua ini kepadaku, jangan pada umatku.” Itulah ucapan Rasulullah

Jibril nampak mengalihkan pandangan dari RasulullahShallallahu Alaihi Wa Sallam, ketika mendengar kata-kata Beliau. Melihat sikap Jibril itu R
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam pun berkata : “Wahai Jibril, apakah engkau tidak suka melihat wajahku?”

Jibril berkata : “Wahai kekasih Allah, siapakah orang yang sanggup melihat wajahmu di kala engkau dalam sakaratul maut ?”. Ini menjadi bukti kedua kecintaan Rasulullah di akhir hayatnya, beliau dalam kondisi sakaratul maut masih tetap mengingat umatnya.

Detik-Detik Terakhir Ajal Rasulullah

Dalam kisah terakhir yang disampaikan, dimana dimana ucapan terakhir Rasulullah dalam hidupnya.

Anas bin Malik RA bercerita, ketika ruh Rasulullah sampai di dada, Beliau bersabda : “Aku wasiatkan kepada engkau agar kalian menjaga salat dan apa-apa yang telah diperintahkan kepadamu.”

Ali bin Abi Thalib berkata :“Sesungguhnya Rasulullah ketika menjelang saat terakhir, telah menggerakkan kedua bibir Beliau sebanyak dua kali, dan saya meletakkan telinga saya dekat dengan Rasulullah, seraya Beliau berkata :“ummati, ummati.”

Manusia mulia itu telah tiada, seluruh kaum muslimin menangis pilu, airmata tak terbendung lagi. Tidak ada satu pun yang bisa menyembunyikan kesedihan mereka.

Kisah ini membuktikan satu hal bahwa kecintaan Rasulullah pada umatnya sungguh luar biasa. Hingga akhir hayat, hingga nafas terakhir yang ada dalam hati beliau adalah keadaan umatnya, hidup ummatnya.

Pertanyaannya, jika Rasulullah yang sampai akhir hayatnya mengingat ummatnya, bagaimana dengan kita? Adakah kita telah mengingat Rasulullah sebagaimana beliau mengingat kita.

Adakah kita bersholawat tiap hari kepadanya, adakah kita menyebut namanya lebih sering ketimbang menyebut nama artis idola yang sering muncul di layar tv atau calon presiden dukungan kalian?

Kembali pada diri masing-masing, kisah ini menjadi renungan kita bersama. Dari sini kita mengetahui kecintaan Rasulullah kepada kita, namun saat ini banyak sekali di antara kita yang hanya ingat Rasulullah di moment-moment tertentu.

Di Bulan Suci Ramadhan, di khutbah Jum’at, di acara maulid dan luar itu kita lupa pada Rasulullah.

Ya Rasulullah, maafkan kami atas kekurangan kami dalam mengingat mu, maafkan kami yang lalai dari sunnah mu semoga Allah mengampuni kami atas semua kesalahan kami kepada mu.

Wallahu A’lam Bishawab