Gelitik – Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budia atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi, dan akal manusia (Wikipedia)

Masih dari wikipedia, Agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Kata “Agama” berasal dari bahasa sanskerta, āgama (आगम) yang berarti “tradisi”.

Biasanya, menjelang tahun baru, perdebatan soal perayaan tahun baru menjadi ramai di perbincangkan. Sejak media sosial menjadi ramai, berbagai himbauan dan larangan merayakan malam tahun baru pun bermunculan.

Orang-orang yang pro dengan perayaan tahun baru menganggap bahwa perayaan tahun baru hanyalah sebuah budaya semata. Sedangkan orang kontra mengatakan, perayaan malam tahun baru adalah perayaan yang bersifat ritual agama tertentu.

Baca juga : Medsos Bukan Tempat Laporan Apa-apa Harus Diketahui Publik

Mari kita melihat bagaimana baginda Rasulullah Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dimasa awal beliau berdakwah.

Rasulullah wal mulanya mendakwahkan tauhid, Tiada Tuhan yang berhak di sembah selain Allah. Inilah inti dari aqidah agama Islam. Ada pun kebudayaan yang ada di tengah masyarakat Mekkah dan madinah setelah berkembang. selama tidak bertentangan dengan aqidah maka nabi persilahkan untuk dilanjutkan.

Namun berbeda dengan budaya yang bertentangan dengan aqidah, maka nabi melarangnya.

Lalu banyak yang mengatakan bahwa Islam juga meniru banyak hal dari agama lain. Seperti pembangunan Menara oleh Kaum Majusi dan Kubah yang di tiru dari Bangunan Eropa.

Pertanyaannya ? Apakah menara dan kubah adalah sebuah simbol agama ?

Jawabannya bukan, Ornamen bangunan berupa kubah dan menara tersebut adalah bentuk ornamen budaya semata.

Baca juga : Nasehat Ustadz Adi Hidayat: Apabila Sudah Selesai Kerja, Jangan Langsung Pulang!

Lalu bagaimana dengan terompet ??

Terompet adalah alat yang di gunakan oleh orang yahudi sebagai alat untuk menyampaikan waktu beribadah. Sebagaimana orang Islam uang mengumandangkan adzan untuk beribadah, maka demikian pula fungsi terompet untuk yahudi.

فعن أبي عميرٍ بن أنسٍ عن عمومةٍ له من الأنصار قال: “اهتم النبي – صلى الله عليه وسلم – للصلاة كيف يجمع الناس لها؟ فقيل له: انصب راية عند حضور الصلاة فإذا رأوها آذن بعضهم بعضاً، فلم يعجبه ذلك، قال: فذكر له القنع يعني الشبور (هو البوق كما في رواية البخاري) ، وقال زياد: شبور اليهود، فلم يعجبه ذلك، وقال: ((هو من أمر اليهود))، قال فذكر له الناقوس، فقال: ((هو من أمر النصارى))، فانصرف عبد الله بن زيد بن عبد ربه وهو مهتمٌ لهمِّ رسول الله – صلى الله عليه وسلم -، فأُريَ الأذان في منامه

Dari Abu ‘Umair bin Anas dari bibinya yang termasuk shahabiyah Anshor, “Nabi memikirkan bagaimana cara mengumpulkan orang untuk shalat berjamaah. Ada beberapa orang yang memberikan usulan. Yang pertama mengatakan, ‘Kibarkanlah bendera ketika waktu shalat tiba. Jika orang-orang melihat ada bendera yang berkibar maka mereka akan saling memberi tahukan tibanya waktu shalat. Namun Nabi tidak menyetujuinya. Orang kedua mengusulkan agar memakai teropet. Nabi pun tidak setuju, beliau bersabda, ‘Membunyikan terompet adalah perilaku orang-orang Yahudi.’ Orang ketiga mengusulkan agar memakai lonceng. Nabi berkomentar, ‘Itu adalah perilaku Nasrani.’ Setelah kejadian tersebut, Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbihi pulang dalam kondisi memikirkan agar yang dipikirkan Nabi. Dalam tidurnya, beliau diajari cara beradzan.”

Itulah sebabnya terompet memang sebuah kebudayaan namun terompet di gunakan untuk panggilan ibadah dalam agama tertentu maka Islam tidak boleh menggunakannya. Artinya terompet telah menjadi sebuah simbol ibadah bagi agama tertentu maka.

Lalu bagaimana dengan kembang api ?

Sama seperti Yahudi yang menggunakan terompet, kaum majusi juga menggunakan api sebagai penanda waktu beribadah. Kaum majusi menggunakan Api untuk mengumpulkan orang-orang dalam rangka beribadah.

Baca juga : Pola Pikir Orang Kaya Vs Orang Miskin

Intinya : Selama budaya itu tak bertentangan dengan Aqidah, atau tidak di gunakan agama lain sebai simbol agama maka silahkan, tidak ada masalah.

Yang jadi masalah kalau simbol agama lain, walaupun bagian dari budaya namun telah melekat dan identik dengan agama tertentu khususnya untuk beribadah, maka kebudayaan itu adalah dilarang untuk di lakukan.

Wallahu a’lam bishawab