Gelitik – Rumah tangga bahagia menjadi impian setiap orang. Namun sikap egois dari salah satu pasangan bisa jadi pemicu hilangnya kebahagiaan dalam sebuah rumah tangga.

Sikap egois bisa dilakukan siapa saja, namun kebanyakan sikap egois di lakukan oleh suami. Walau sikap egois istri juga ada namun tidak banyak bila di bandingkan oleh suami.

Biasanya Wanita atau istri bila ingin keluar maka mereka akan meminta izin atau setidaknya minta untuk di temani bertemu bersama teman-temannya. Walau ada yang tidak, namun jumlahnya tidak seberapa.

Berbeda dengan suami yang biasanya lebih senang pergi sendirian karena menganggap perempuan lebih ribet untuk di ajak, atau juga seperti merasa terlalu di tekan bila bepergian bersama, tidak boleh ini tidak boleh itu.

Terutama saat kumpul bersama kawan atau rekan kerjanya. Ada sedikit rasa yang mengganjal bila istri ikut serta, dan paling takut di katakan anggota ISTI (Ikatan Suami-suami Takut Istri)

Dahulukan Istri Kamu Dari pada Teman Atau Rekan Kerjamu

Namun suami seharusnya sadar bahwa seorang istri harus di dahulukan dari kawan atau rekan kerja, mengapa?, berikut alasannya :

Istri memiliki waktu terbatas dan Sangat membutuhkan waktu berkualitas

Seorang istri mungkin bila masih belum memiliki anak tidak akan terlalu repot, namun jangan pandang enteng, Dari bangun pagi sudah bersih-bersih rumah, cuci baju, cuci piring, masak dan berbagai daftar pekerjaan lainnya.

Itu belum kalau punya anak yang masih kecil, harus mandikan, bikin susu, ganti popok, kasih makan, atau kasih diam kalau lagi rewel, itu bukan pekerjaan mudah.

Baca Juga : Jangan Takut Nikah Muda, Takutlah Pada Dosa

Berapa banyak waktu mereka gunakan untuk mengurus semuanya. Istri tidak butuh di ajak ke tempat rekreasi yang jauh, melancong sampai keluar pulau.

Dengan mengajaknya bersamamu, setidaknya meninggalkan pekerjaan rumah untuk beberapa saat sudah membuat ia terhibur. Walau pun itu hanya sekedar berkumpul bersama teman-teman kamu.

Coba Pikir Bagaimana Ia Sebelum Jadi Istrimu

Sebelum kamu menikahi perempuan yang sekarang jadi istri kamu, coba bayangkan kehidupannya.

Dulu ia adalah anak dari sepasang orang tua, hidupnya penuh dengan kebahagiaan. Ia dinafkahi oleh orang tuanya, Hidupnya terjamin tanpa perlu ini dan itu.

Ia bebas bergaul dengan siapa saja, dengan teman wanita atau teman pria. Ia bahkan bisa pergi kemana saja dimana pun ia suka tanpa memikirkan pikiran pekerjaan rumah tangga.

Baca Juga :Nasehat Ustadz Adi Hidayat: Apabila Sudah Selesai Kerja, Jangan Langsung Pulang!

Namun setelah menikah, semua pekerjaan rumah tangga jadi bebannya, dari cuci piring, pakaian hingga membersihkan tempat tidur dan kamar mandi.

Sekarang bandingkan apa yang kamu perbuat terhadapnya, dan apakah kamu tidak bisa memberikannya sedikit jedah, setidaknya mendahulukannya di banding teman atau rekan kerja kamu.

Istri kamu bukan pembantu kamu

Tugas utama seorang pembantu adalah mengurus pekerjaan rumah tangga. Jika istri hanya di rumah terus mengurusi segala pekerjaan rumah tangga, yang di kasih uang belanja tiap bulan, lalu apa bedanya dengan seorang pembantu.

Mengajak istri sekali seminggu di hari libur bisa membuatnya merasa bahagia. Setidaknya hari libur bagi semua orang juga menjadi hari libur bagi dirinya dari pekerjaan rumah tangga.

Jangan jadikan hari libur sebagai hari libur bekerja bagi para suami saja. Namun jadikan lah hari libur benar-benar menjadi hari libur bagi seluruh anggota keluarga.

Jika Kamu Bisa Berkorban Waktu Demi Teman Kenapa Tidak Demi Istri Kamu

Banyak suami yang rela bolos kerja bersama teman-temannya dengan alasan menghindari stress akibat pekerjaan. Namun mengapa tidak berani bolos demi istri yang katanya tercinta.

Seharusnya, jika kamu punya keberanian melakukan sesuatu demi teman kamu maka keberanian kamu harusnya dua kali lipat demi istri kamu.

Baca juga : Jomblo “Pranikah” Anugerah Atau Musibah

Kamu mungkin stress dengan pekerjaan kamu di tempat kerja, namun kamu belum merasakan bagaimana stress-nya seorang istri di rumah yang tiap hari terkurung dalam rumah bersama pekerjaan rumah tangga yang menumpuk.

Istri Lebih senang bepergian dengan Suami, lalu mengapa suami tidak

Bagi istri, bersenang-senang tanpa ada suami di sisinya serasa ada yang kurang. Karena kebahagiaan istri baru terasa lengkap kalau ada suaminya.

Istri juga merasa lebih aman dan nyaman saat bersama dengan suaminya. Namun berbeda dengan suami yang malah merasa tidak nyaman bila bepergian dengan istrinya.

Seorang istri biasanya akan bangga dengan suaminya bagaimana pun dia. Seorang istri akan membela suaminya bila mendengar kata yang tak pantas di tujukan pada suaminya.

Intinya :

Bagi suami, bila kamu memiliki waktu luang, dahulukan untuk mengajak istri kamu jalan, bila kamu ada duit lebih, dahulukan traktir istri kamu dibanding mentraktir kawan atau rekan kerja kamu.

Pikir lah, siapa yang mengurus baju kamu, siapkan makan kamu, atau mengurus anak-anak kamu. Pernah kamu berfikir ketika kamu sakit, siapa yang akan mengurus kamu, bukan teman-teman kamu, bukan saudara-saudara kamu, tapi yang urus kamu adalah istri kamu.

Perlakukan mereka dengan baik, dahulukan ia di bandingkan dengan kawan dan rekan kerja kamu.