Kisah Sedih !! Rintihan Pilu Seorang Ayah

Gelitik.com – Mungkin ini jarang terjadi, ketika seorang laki-laki yang tampak tegar ternyata dalam hatinya merintih. Itulah aku, seorang Ayah untuk putra putri ku. Dan mungkin para pembaca budiman akan membantu ku menyelesaikan masalah ku, atau setidaknya tulisan ini bisa membuat aku sedikit melepaskan beban hatiku.

Pagi itu, aku melihat putra ku sedang bermain, bermain bersama temannya yang memiliki sebuah sepeda baru yang dibelikan ayahnya untuk hari pertama ia bersekolah. Aku memperhatikan keduanya bermain dan bersepeda. Namun tiba-tiba putra ku meminta untuk meminjam sepeda itu, dan ia menggunakannya.

Aku tidak pernah tau, putra kecil ku yang duduk kelas 2 Sekolah Dasar ternyata sudah mahir naik sepeda. Dimana ia belajar, siapa yang mengajarinya, dan kapan ia mahir bersepeda. Begitulah pertanyaan ku dalam hati sambil memperhatikan mereka. Aku tidak tau hal itu, mungkin aku terlalu sibuk dengan pekerjaan sebagai pekerja serabutan yang memiliki penghasilan tak menentu.

Aku jadi melamun, melihat mereka yang sedang asik bermain. Tiba-tiba, Ibu dari anak teman putraku itu memanggil putranya. Kemudian putraku yang masih asik bersepeda langsung terhenti. Sepedanya minta di kembalikan, tetapi sepertinya putra kecil ku belum lah cukup menikmati petualangnya. Terlihat lesu di wajahnya, ia sangat kecewa.

Temannya pun berlalu dengan sepeda barunya, Putra kecil ku hanya bisa menatap terus ke arah temannya itu hingga hilang di ujung jalan. Aku tau …. ia masih ingin menikmati bersepeda. Putra ku berjalan ke arah ku, sangat lusuh dan memendam perasaan dalam dirinya, ia menghampiri ku dan berkata sesuatu pada ku. Sebuah permintaan yang menyakitkan hatiku.

“Pa … warna sepeda Bambang merah dan bagus” kata putra ku menyebut nama temannya
“Terus …. kenapa …” tanyaku
“Andai aku punya ayah seperti ayahnya Bambang yang bisa memberikan apa saja yang di inginkannya” kata putra ku.
“Aku hanya bisa mengelus dada” putraku ternyata tak ingin memiliki ayah seperti aku. Tapi aku tau bahwa memang aku tak seperti ayah dari teman putra ku itu yang seorang developer di kota kecil ini.

Aku hanya seorang pekerja kelas bawah, dengan gaji rendahan, jangan kan untuk membelikan sepeda, tiap akhir bulan saja harus mencari dana tambahan menutupi kebutuhan keluarga.

Baca Juga : Kisah Inspiratif !! Wahai Ayah, Ajari Aku Sholat !!

Aku tau dan aku sadar, putra ku tak mengerti apa yang ia katakan akan bisa menyakiti hati ayahnya, hingga aku menangis dalam diri dan berkata dalam hati “Adakah aku punya salah sehingga aku di perlakukan begini?”

Aku telah berusaha keras bekerja dari pagi sampai jam 12 malam. Tetapi aku tak seberuntung ayah lain yang bisa memenuhi segala kebutuhan anak mereka. Aku seorang yang hanya bisa bekerja dengan pengetahuan yang terbatas. Seorang ayah tanpa gelar sarjana yang tak bisa berbuat banyak dengan pendidikan yang dimilikinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.