Aduh, sakit, keluh Andi yang kejatuhan buah mangga tepat di atas kepalanya, angin sore memang bertiup agak kencang membuat rimbun pohon mangga tempat mereka berteduh bergoyang.

Rudi pun tertawa melihat musibah yang baru saja menimpa temannya. Untung, kamu yang kena sakitnya aku yang dapat nikmatnya” kata Rudi sambil memungut buah mangga tersebut.

Slupp, Rudi langsung memakan buah mangga yang mengkal itu, dengan mulut penuh terus mengunyah di ikuti senyum menatap temannya yang masih mengusap kepalanya.

Kejam kamu Rud, masa teman kena musibah malah di ketawain, protes andi dengan wajah kesal. Namun tanpa rasa bersalah Rudi terus mengunyah dan terus melepaskan senyum tanpa rasa bersalah.

Mimpi Anak Gembala
Anak-anak desa di sekitar Danau di Sumatera Via Tribun

Setelah beberapa saat Andi sudah tidak lagi mengusap kepalanya tanda rasa sakitnya telah hilang, Rudi pun telah selesai melahap buah mangga dengan membersihkan sisa-sisa di sela giginya.

Sambil menatap kerbau gembala mereka dikejauhan, mereka duduk santai di bawah pohon sekedar bernaung. Kamu kalau besar mau jadi apa, tanya Rudi pada Andi.

Mendengar pertanyaan itu Andi dengan antusias langsung menjawab, ingin menjadi pemimpin negeri, kamu sendiri mau jadi apa? menimpali pertanyaan Rudi.

Saya hanya ingin punya toko besar tak berani mimpi terlalu tinggi, anak gembala seperti kita ini paling akhirnya jadi petani.

Coba lihat Mas Heru yang Sarjana itu, dia kembali ke sawah juga setelah sekolah tinggi-tinggi. Di negeri ini pendidikan itu bukan prioritas, namun yang berlaku siapa yang dekat dengan penguasa.

Ah, itu alasan saja, jangan pesimis, menjadi pemimpin negeri itu juga tidak butuh pendidikan tinggi, dengan pendidikan SLTA saja bisa kok, kata Andi.

Maksud kamu ikut pemilihan, hahahaha … berani kamu jual sawah dan kerbau. Di negeri ini, biaya politik itu sangat mahal, itu pun kalau terpilih, kalau tidak, menderita lahir batin lah kau. Kata Rudi sambil terus tertawa.

Hidup mu terlalu sederhana Rud, ingat tidak pribahasa yang sering di sampaikan orang tua kita, gantunglah cita-citamu setinggi langit. Andi yang mencoba mencari alasan.

Rudi pun tertawa lepas, itulah salahnya orang tua kita mengajarkan kita, gantung cita-cita setinggi langit, mana kesampaian, sampai sekarang pun belum pernah ada orang yang pernah kelangit hahahaha, Rudi semakin tertawa lepas.

Ayo Ndi kita balik, kembali ke dunia kita, dunia anak gembala, no Kerbau mu sudah menanti rindu ingin pulang.

Andi pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan bersama Rudi menuju tempat kerbau gembala mereka ditambatkan. (Bersambung)