Saatnya saya pulang kampung, untuk turut serta secara langsung, menyumbangkan suara dalam pesta demokrasi masyarakat desa “PILKADES”.

Ternyata tak kalah riuhnya dengan pemilihan presiden. Di desa pun terjadi banyak insiden. Dari perang status di dunia maya, sampai perang mulut di dunia nyata.

Jika zaman dahulu, pilihan itu dirahasiakam dan malu-malu, kini masyarakat tampaknya lebih percaya diri mengakui siapa pilihan hati.

Tapi karena kepercayaan diri tersebut, disadari atau tidak, dengan tetangga jadi sungkan bertegur sapa. Dalam satu blok, terbagi berblok-blok. Kenapa? Bukankah pilihan boleh beda, kerukunan dan persatuan tetap kita jaga.

Siapapun yang jadi Kepala desa, tetangga adalah orang pertama yang menolong kita. Alangkah sayangnya, bila karena beda, rusak hubungan dengan saudara. Hubungan yang dibangun bertahun-tahun jadi hancur, tak lagi akur.

Pilihan terbaik harus kita dukung, agar aspirasi masyarakat bisa ditampung. Calon aspiratif harus kita perjuangkan, agar cita-cita desa bisa diwujudkan. Tapi, persatuan di atas perbedaan harus tetap di utamakan.

Menjaga perasaan pendukung lawan juga harus dipertimbangkan. Karena mereka adalah teman, tetangga, saudara, sekampung, sepermainan.

Jika calon andalan kalah, malukah kita karena sudah sumpah serapah? Jika calon lawan menang, malukah kita karena sudah menjelek-jelekkan.

Siapapun nanti yang terpilih, dia adalah KADES kita, yang harus didukung demi kemajuan desa.

Ini hanya berbagi pengalaman sebagai masyarakat desa. Bagaimana di desa anda? (Penulis : Vika Ardiyanti)