Gelitik – Menarik memang bisnis yang satu ini, sebuah bisnis yang menjanjikan penghasilan yang luar biasa, namun demikian, bisnis forex juga ternyata mengandung resiko yang sangat besar.

Islam mengajarkan tentang cara mencari rezki yang halal dan toyyib. Sehingga banyak yang mempertanyakan bagaimana pandangan Islam mengenai bisnis forex.

Termasuk saya yang selalu mencari hukum forex dalam Islam.

Saya melihat berbagai artikel dan video youtube mengenai hukum bisnis forex dalam pandangan Islam. Namun kebanyakan penjelasan mereka selalu mengarah pada money changers (pertukaran mata uang).

Sehingga jawaban-jawaban yang di hasilkan tidak memberi kepuasan pada saya secara pribadi.

Saya menemukan berbagai artikel yang membahas tentang Hukum forex dalam pandangan syariah Islam, namun lagi-lagi saya merasa tidak puas dengan jawaban dari artikel-artikel tersebut.

Hukum Forex Dalam Syariah Islam

Apakah bisnis forex itu halal atau haram ?? inilah pertanyaan yang menghantui sebagian orang yang ingin terjun ke dunia forex bahkan para pelaku bisnis forex pun tetap mencari jawaban pasti.

Salah satu acuan yang banyak di jadikan referensi adalah Fatwa Dewan Syari’ah Nasional Nomor 28/DSN-MUI/III/2002 mengenai jual beli mata uang atau disebut dengan Al-Sharf

Ada poin-poin tentang Bisnis Forex yang isinya kurang lebih sebagai berikut :

a. Tidak untuk spekulasi (untung-untungan)

Spekulasi atau untung-untungan mirip judi atau bahkan bisa di katakan judi. Artinya poin a menunjukkan bahwa bila dalam bisnis forex tidak boleh untung-untungan (sebagaimana judi)

Mari kita lihat ? Apakah forex itu bisnis untung-untungan seperti judi?

Forex memiliki sebuah strategi dalam menjalankannya dimana ilmu tentang forex harus di ketahui secara baik. Kamu harus bisa membaca grafik berupa candle stick atau model grafik lainnya untuk memperkirakan pergerakan harga.

Ada juga indikator, yang mana harus bisa di ketahui cara penggunaannya sehingga tidak mengalami kerugian atau lose.

Ketika kamu terjun dalam forex tanpa ilmu maka kamu sedang berjudi sedangkan bila dengan ilmu yang mantap maka kamu sedang berdagang.

Contoh : Judi itu kamu hanya menebak-nebak tanpa pengetahuan, atau bisa menebak tapi hatimu tidak yakin akan tebak-tebakan yang kamu lakukan.

Sedangkan forex, ketika kamu membaca grafik candle stick dan juga indikator, kamu punya keyakinan untuk membuat sebuah keputusan yang tepat untuk melakukan open posisi.

b. Ada kebutuhan transaksi atau untuk berjaga-jaga (simpanan)

Untuk poin b ini, sama sekali tidak ada dalam forex karena kamu tidak memiliki kebutuhan transaksi. Demikian juga sebagai simpanan.

Karena forex adalah sebuah kegiatan transaksi, namun bukan pertukaran antara uang dengan barang tetapi uang dengan uang.

Untuk poin b ini berlaku untuk money changer (pertukaran uang secara langsung) dan sama sekali tidak ada kegiatan seperti di maksud poin b dalam bisnis forex.

c. Apabila transaksi dilakukan terhadap mata uang sejenis maka nilainya harus sama dan secara tunai (at-taqabudh).

Demikian juga untuk poin c ini dimana pertukaran mata uang harus nilainya sama sebagaimana yang berlaku.

Dalam forex, poin c ini tidak ada, yang ada adalah pertukaran ketika deposito rupiah dan masuk kedalam akun forex adalah nilai mata uang yang di pilih (USD/Dollar, EUR/Euro, GBP/Poundsterling).

Dan bila dimaksudkan demikian maka dalam forex hal ini juga tidak ada, kecuali saat deposit ke akun.

Artinya apa, Fatwa MUI ini sama sekali bukan bicara soal Forex tapi lebih tepat kepada money changer secara offline atau pertukaran mata uang secara langsung / face to face.

Saya pun mencoba untuk menjabarkan sebagaimana pemahaman saya tentang hukum bisnis forex ini. Karena bisnis ini sangat dekat dengan 2 dosa besar sekaligus yaitu Judi dan Riba.

Apakah Forex itu Judi ??

Sebagaimana tulisan di atas pada poin a, jelas bahwa ketika terjun dalam dunia forex tanpa pengetahuan maka itu adalah judi.

Berdagang mata uang yang sifatnya berubah tiap detik, lalu kita di minta untuk memilih jual atau beli, tanpa ilmu forex maka sama saja berjudi dengan melempar koin dua sisi.

Namun ketika kita bisa menguasai ilmunya, dan tau cara menggunakannya dengan bijak maka bisnis forex akan terbebas dari judi.

Misalnya, kamu akan menjual baju dan menggap baju itu akan laku, maka resiko ada 2 yaitu kamu benar dan kamu salah.

Tapi kamu kuasai cara dagang maka kemungkinan kamu akan untung tetapi resiko rugi juga ada ketika kamu salah dan baju yang kamu jual ternyata tidak laku di pasaran.

Sama seperti forex dengan ilmu pengetahuan yang telah di kuasai, bahwa kemungkinan untuk mendapatkan untung sangat besar tetapi resiko rugi juga ada.

Apakah Forex itu Riba ??

Membahas riba memang cukup panjang bila di kaitkan dengan forex. Karena Riba itu ada banyak macam. Namun singkat saja kita coba jelaskan satu persatu.

Pertama adalah dibayar dengan kontan !

Apakah forex dibayar kontan ?? Kontan disini adalah langsung di serahkan sat itu juga.

Ada yang beranggapan bahwa forex dibayar tidak dengan kontan karena tidak melihat uang secara fisik.

Bagi saya, uang sebenarnya di serahkan secara fisik, cuman dalam bentuk lain. Dimana ketika open posisi, saldo akan akan berkurang sesuai perdagangan yang di lakukan.

Mengapa ini adalah secara kontan ??

Sama saja ketika kamu belanja dengan kartu ATM di toko. Apa kamu serahkan uang dan pemilik langsung menerima ??

Secara kasak mata tidak, namun sebenarnya hal itu adalah sebuah transaksi langsung cuman bentuk uangnya yang berubah dari fisik menjadi digital.

Uang kamu langsung berpindah dari rekening kamu ke rekening penjual saat kamu memutuskan menekan tombol transfer / beli.

Sama juga dalam forex, saat terjadi open posisi maka uang kamu otomatis akan berkurang dan saat menutup uang kamu akan bertambah bila untung dan berkurang bila rugi saat itu juga.

Jadi dalam forex, ini adalah transaksi secara langsung dan tunai dalam bentuk cash virtual

Kedua Spread

Ketika kita melakukan open posisi maka akan terjadi potongan (Spread dalam bahasa forex). Dan itu berpeluang menjadi riba.

Namun karena kita menggunakan jasa broker, maka spread di anggap sebagai jasa sewa.

Kalau kita ilustrasikan, misalnya broker adalah mall dan para trader adalah pedagang di mall, maka sangat cocok.

Untuk berdagang di mall, mall tidak membebankan biaya sewa, tapi mereka membebankan biaya per-transaksi. Misalnya menarik persentase atas setiap transaksi yang di lakukan oleh pedagang (trader).

Artinya spread adalah biasa sewa yang di bebankan kepada para trader atas tiap transaksi yang dilakukan.

Ketiga adalah Swap

Berbeda dengan sewa (Spread) yang di tetapkan oleh broker, Swap juga adalah biaya sewa yang di bebankan kepada trader bila melakukan open posisi lama (istilanya menginap).

Swap biasa di sebut sebagai biaya menginap karena berdagang mata uang antar negara. Pasar bursa tiap negara itu operasi sekitar 8 jam. Dan ketika pasar tutup namun trader belum close (tutup posisi) maka akan di kenakan biaya Swap atau menginap.

Walau dalam jumlah kecil, posisi Swap yang di bebankan tidak memiliki aturan dalam perdagangan. Sehingga beban Swap bisa di anggap biaya gelap.

Karena para trader telah membayar spread, maka seharusnya, biaya Swap di tanggung oleh para broker.

Keempat Potongan Penarikan Dana

Broker telah mengambil keuntungan sewa berupa spread pada tiap open posisi para trader. Dan itulah yang jadi hak milik broker.

Ketika seorang melakukan penarikan dana dari akun Forex ke rekening bank, maka seharusnya tidak boleh lagi ada potongan yang di bebankan kecuali potongan dari pihak bank.

Karena kita menggunakan jasa bank untuk menerima pembayaran maka pihak broker tidak bisa membebankan biaya kepada trader atas penarikan dananya.

Dan ini pun seharusnya di anggap sebagai biaya gelap yang tidak berdasar dan mengambil atau merampas hak orang.

Sedangkan untuk jenis transaksi seperti Spot, Option, atau menunda pembayaran maksimal 2 hari sama sekali tidak ada dalam forex walau hal tersebut kemungkinan bisa di lakukan.

Seperti para trader yang melakukan transaksi jangka panjang misal seminggu, sebulan atau bahkan setahun maka jelas hal tersebut sudah bertentangan dengan fatwa MUI.

Kesimpulan Hukum Forex Dalam Islam

Saya bukan seorang Ahli agama, bukan kyai atau ustadz. Namun kesimpulan saya bahwa Forex adalah perkara Syubhat.

Forex sangat dekat dengan Dosa besar yaitu Judi dan Riba. Karena banyaknya hal yang belum bisa kita pahami sebagai masyarakat awam.

Oleh sebab itu saya cuman menghimbau bahwa Allah menciptakan banyak usaha dan bisnis yang lebih jelas halalnya, seperti bisnis sembako, mengapa harus mendekati bisnis yang sifatnya Syubhat.

Sebagai nasihat dari Baginda Rasulullah Shallalahu A’laihi Wassalam, beliau bersabda yang artinya :

Sesungguhnya yang halal itu jelas, sebagaimana yang haram pun jelas. Di antara keduanya terdapat perkara syubhat-yang masih samar-yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Barangsiapa yang menghindarkan diri dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Barangsiapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka ia bisa terjatuh pada perkara haram. Sebagaimana ada pengembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanah larangan yang hampir menjerumuskannya. Ketahuilah, setiap raja memiliki tanah larangan dan tanah larangan Allah di bumi ini adalah perkara-perkara yang diharamkan-Nya.” (HR. Bukhari no. 2051 dan Muslim no. 1599)

Mungkin Forex menjanjikan keuntungan yang besar dan instan, namun ingat resiko rugi jauh lebih besar.

Kerugian yang di janjikan tidak main-main, kamu akan kehilangan harta/modal dan kemungkinan terjerumus dalam perkara haram pun juga sangat dekat.