Gelitik – Pelakor adalah sebuah istilah singkatan asal kata perebut laki orang. Saat ini sedang marak berbagai berita tentang pelakor. Berita terakhir viral yaitu kecelakaan yang menyebabkan si lelaki meninggal dan si wanita yang ditengarai sebagai pelakor dalam kondisi koma.

Banyak para istri yang menyalahkan si pelakor atas tingkahnya, namun hal tersebut mendapat perlawanan dari para pelakor yang mengatakan salah istri yang tidak bisa menjaga suaminya.

Benarkah ini kesalahan si istri atau karena kesalahan si pelakor. Atau kita melupakan pihak ke tiga yaitu ini semua dikeranakan si suami ?

Sebenarnya bila melihat akar permasalahan adalah pada suami, sebagai posisi tengah, dan bila bertanya siapa yang salah bila hadir pelakor di antara suami dan istri ?. Tentu sulit menemukan jawaban kecuali dengan menyatakan semua pihak adalah yang bersalah dan bertanggung jawab.

Namun kali ini kita akan membahas bagaimana sebaiknya istri bersikap hingga suaminya tidak kepincut pelakor, berikut ulasannya :

Istri yang senantiasa memelihara penampilannya termasuk di dalam rumah.

Banyak istri yang sering berpenampilan seadanya bila berada di rumah. Berbeda bila ingin keluar rumah, biasanya akan dandan habis-habisan agar terlihat cantik lebih dari biasanya.

Dirumah, istri hanya berpenampilan lusuh dengan daster tanpa make-up. Alasannya karena terlalu sibuk mengurus rumah dan anak sehingga tidak bisa menjaga penampilannya.

Hal tersebut membuat istri kehilangan aura cantiknya di mata suami, sehingga ketika suami melihat wanita lain yang lebih cantik, si istri pun terlupakan.

Padahal fitrahnya semua wanita itu cantik baik iya seorang ibu rumah tangga atau seorang gadis atau janda. Cuman terkadang, perawatan diri membuat aura cantik seorang perempuan itu tidak terlihat.

Maka baiknya, seorang istri walau capek mengurus rumah dan anak-anak, jangan lupa untuk mengurus dirinya sendiri agar terlihat cantik di mata suami hingga suami tidak tergoda wanita lain.

Istri yang senantiasa patuh pada suami dan senantiasa menunjukkan rasa sayang

Banyak istri yang merasa beban pekerjaan rumah membuatnya capek, lelah sehingga lupa untuk bersikap manis pada suaminya.

Suami pulang kerja bukannya di sambut dengan senyum bahagia namun terkadang di sambut dengan perilaku acuh tak acuh.

Suami pulang kerja di anggap sesuatu yang biasa dan tidak perlu perlakuan khusus. Bahkan ada juga istri yang menyambut suaminya dengan marah-marah dan ngomel tidak karuan.

Hal ini bisa membuat suami merasa tidak betah dirumah dan mencari tempat hiburan di luar rumah. Perhatian wanita lain terasa istimewa karena tidak mendapat perlakukan yang sama dalam rumah.

Namun bila mendapat istri yang patuh dan senantiasa menunjukkan rasa sayang, maka suami dalam fikirannya saat bekerja akan terus mengingat perlakuan sang istri di rumah yang selalu membuatnya nyaman.

Ujung-ujungnya si suami akan selalu ingin cepat pulang dan mendapatkan kenyamanan dari sang istri. Baca juga : Wahai Suami dan Istri Jangan Umbar Masalah Keluargamu di Sosmed

Melayani suami sepenuh hati tidak membuat istri menjadi hina di mata suami

Bagi seorang suami, dilayani dengan baik adalah mimpi ketika belum menikah. Mereka ingin memiliki seorang istri yang bisa memberikan pelayanan yang baik.

Kasih sayang seorang suami terhadap istrinya sungguh besar ketika seorang istri bisa melayani suaminya dengan baik.

Bagi suami, istri yang melayaninya dengan baik akan di anggapnya sebagai seorang putri raja. Suami akan melakukan apa saja untuk membuat istrinya menjadi seorang putri.

Karena dalam benak suami, akan timbul rasa bangga dan rasa sayang yang besar ketika ia dilayani seorang putri.

Namun sebaliknya, ketika suami mendapat perlakukan kasar, penentangan, walau pun istri secantik apapun, ia tidak akan terlihat sebagai putri di mata suami.

Karena bagi suami, buat apa semua kecantikan layaknya putri raja kalau sifat dan karakternya juga sama dengan putri seorang raja yang sesungguhnya.

Memang benar bahwa banyak hal yang menyebabkan munculnya pihak ketiga dalam keluarga yang disebut pelakor.

Kesalahan bisa di lakukan oleh siapa saja termasuk oleh istri atau suami hingga munculnya pelakor dalam sebuah rumah tangga.